HMIku, HMImu dan HMI kita

Saya masuk HMI pada tahun 1994. Saya sudah kenal HMI waktu masih di MA Miftahul Ulum Suren Jember. Saya tahu melalui Majalah Pesantren P3M, dan Aula NU Jawa Timur. Di majalah tersebut ada beberapa berita, wawancara maupun artikel yang ditulis oleh pentolan alumni HMI.

Cak Nur sebagai intelektual muslim terdepan HMI dan bangsa ini yang membuat saya tertarik pada organisasi yang dibidani oleh Prof Lafran Pane 5 Februari 1947 di Yogyakarta ini. Pasalnya, beberapa cuplikan berita, wawancara maupun artikel Cak Nur memberikan tawaran pemahaman keislaman yang murni, segar dan modern. Maklum Cak Nur sebagai salah satu tokoh pembaharuan Islam Indonesia.

Berawal dari ketertarikan pada pemikiran Cak Nur tersebut sejak mendaftar sebagai mahasiswa di STAIN Jember, saya sudah berketetapan hati untuk berproses di HMI. Walau niat saya, sempat ditentang oleh senior2 saya di IPNU-IPPNU Cabang Jember. Ada Cak Nur Ali, ada Mbak Syifa, ada Mbak Indah, tokoh2 IPNU-IPPNU yang notabene juga aktivis PMII, mengingatkan saya bahwa HMI itu tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah, PMIIlah yang NU dan seterusnya. Saya yang juga sudah jadi Ketua IPNU Ancab Silo Jember, justru dengan keras menentang pendapat para senior di atas. Tak benar HMI tak seideologi dengan NU. HMI itu Muhammadiyah. Dan, PMIIlah yang NU. Faktanya, Muhammadiyah punya IMM. HMI independen, dan PMII juga independen. Tak satu pun dokumen NU maupun PMII yang menyebutkan bahwa organisasi yang dibidani oleh Mahbub Junaidi, salah satu pentolan HMI ini, yang menyebut secara eksplisit sebagai underbrow NU.

Sikap kekeh saya ini yang mendorong Cak Ali Mudhari mengajak saya silaturrahmi pada dosen2 PMII STAIN Jember, Prof Halim dan Pak Zainuddin Jakfar. Cak Ali waktu itu jelang keberangkatannya ke Makassar untuk melanjutkan S2 di IAIN sana, kebetulan mendapatkan beasiswa. Barangkali saya dikenalkan dengan beliau, bisa merubah keputusan masuk HMI. Justru, usaha keras ini membuat saya kian penasaran dan rasa ingin tahu saya kian besar. Ada apa gerangan? Ternyata, semua ituPropaganda politik organisasi ekstra kemahasiswaan dalam melakukan rekrutmen anggota baru.

Pasca itu, saya praktis menjalani dua organisasi kepemudaan. Satu sisi sebagai aktivis IPNU, dan sisi lain sebagai aktivis HMI. Saya pernah menjadi sekretaris umum IPNU Cabang Jember pada 1994-1997, dan juga pernah menjadi ketua kekaryaan HMI Cabang Jember Komisariat Sunan Ampel pada 1997-1998 serta ketua pembinaan anggota HMI Cabang Jember pada 1998-1999.

Bagi sebagian kalangan, fenomena ini relatif jarang, seorang aktivis NU sekaligus aktivis HMI, aktivis HMI sekaligus aktivis NU. Namun demikian, saya tetap merasa bangga pernah dibesarkan dua organisasi kepemudaan di atas. Walau terkadang ini dijadikan “alat” untuk mendelegitimasi dan mengamputasi kekuatan politik dan sosial saya dalam menjalani pengabdian kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tak sedikit pun terbersit rasa kecewa terhadap hasil ijtihad organisasi saya ini. Saya benar2 merasa dua organisasi kepemudaan tersebut yang berjasa besar mengkontruksi pemikiran dan perjuangan saya lalu, kini dan nanti. Inilah HMIku.

Di pihak lain, ada dosen dan senior saya di STAIN Jember, Pak Bahruddin, justru pernah mewarning yunior2 untuk hati2 kepada saya. Saya dinilai sudah balik kandang, lantaran beberapa tulisan saya di Radar Jember, seperti Republik NU, HMI dan NU dalam Kontraksi dan lain sebagainya, dinilai membela mati2an Gus Dur pada saat proses impeachment. Sebab, bagi wali studi saya ini, HMI itu Muhammadiyah. Beliau sampai berkesempulan seperti itu lantaran banyak alumni Himpunan pasca purna mahasiswa aktif di perserikatan. Tetapi tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa HMI itu Muhammadiyah. Faktanya, ada alumni Himpunan yang aktif di NU, Al-Irsyad, Persis, MMI dan lain sebagainya. Itulah HMImu.

Jadi, HMI kita adalah organisasi ekstrauniversiter yang tampil dengan wajah warna warni, baik faham keislaman maupun dalam faham keindonesian. HMI kita merupakan “tenda besar” yang mengayomi terhadap keaneragaman aliran dalam Islam maupun dalamIndonesia. Di HMI organisasi kemahasiswaan yang terbuka pada ragam aliran tersebut. Tak ada bedanya, antara sunni dan syiah, antara kaum liberal dan kaum sosialis.
Semua memiliki kedudukan yang sama di hadapan konstitusi dan organisasi. Keterbukaan dan keluwesan ini yang mendorong HMI kita tak terjebak pada pemikiran dan gerakan ekstrim. Para aktivisnya dituntut untuk saling memberi dan menerima perbedaan yang ada. Perbedaan bukan sesuatu yang tabu, melainkan itu sunatullah untuk menguji makhluk dalam menerima kebenaran dan berpegang teguh pada kebenaran tersebut. Sebab, tiap orang pada hakekatnya cendrung pada kebenaran.

HMI kita yang sudah berusia 64 tahun sudah sangat dewasa. Apalagi dibanding dengan organisasi ekstra kemahasiswaan yang lain. Barangtentu, usia yang sangat dewasa tersebut menambah kematangan dalam pemikiran dan perjuangan. Semua itu terhijawantah pada muslim intelektual profesional. Yaitu sosok manusia yang akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, serta bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.
Kreteria insan cita di atas menjadi semacam filter dari HMIku, HMImu, HMI kita. Di luar itu, betapa pun ia aktivis yang berdarah2 di HMI, sesungguhnya ia telah menyelewengkan dasar perjuangan Himpunan ini. Tanpa peduli, ia mantan ketua umum PBHMI sekalipun.

Garis ini sangatlah penting untuk memantapkan HMI sebagai organisasi kader yang bisa diserap oleh partai politik mana pun dan juga organisasi sosial kemasyarakatan apa pun. Dengan visi sebagai organisasi kader yang terbuka, maka peran dan fungsi HMI akan kian nyata dalam kehidupan bermasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Kader dan alumni HMI jauh akan diterima dan akan berada dimana2. Inilah hakekat doktrin Islam rahmatan lil ‘alamin yang diperjuangkan oleh Cak Nur selama hidupnya. Selamat ulang tahun HMI. Mudah2an diusia ke-64 ini, HMI kian jaya.
Amien.

* Oleh Moch Eksan: Adalah alumni HMI Cabang Jember, mantan Anggota KPUD Jember dan saat ini sedang mengasuh padepokan Aziziyah bersama dengan Aziz Gagap dan aktivis social lainya di Bogor.
Share this article :
 

+ comments + 1 comments

Anonymous
April 21, 2013 at 9:42 PM

saya bangga pada kakanda eksan di tengah kesibukannya namun tetap saja menyempatkan diri untuk menulis dan tulisannyapun sangat luar biasa. namun sayang "junior" nya tidak ada yang tertarik untuk menulis.

Post a Comment
 

Copyright © 2011. HMI STAIN JEMBER - All Rights Reserved