Titik Temu Kemanusiaan

Minggu sore, saya bersama keluarga bertemu dengan aktivis jihad di Pusat Kesehatan Pondok Pesantren Syarif Hidayatullah Sukorambi Jember Jawa Timur. Kami berdua sama-sama berobat ala pengobatan alternatif herbal. Di tengah-tengah menunggu, dimoderatori oleh Dr (HC) KH Kahar Mudzakir Hasba, perbincangan soal terorisme berlangsung seru di antara kami. Terutama terkait dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir, skenario intelijen, aksi-aksi terorisme, dan masa depan jihad di Indonesia.


Kiai Kahar –panggilan akrab Dr (HC) KH Kahar Mudzakir Hasba, pertama memancing perbincangan soal terorisme ini dengan memberikan buku saya, “Dari Bom Bali Sampai Kuningan. Mencari Akar Terorisme di Tanah Air (Pena Salsabila dan LPM Filantrophy Studies, 2009)”, ke aktivis jihad tersebut. Perbincangannya pun berlangsung seru.

Dalam pandangan aktivis jihad, Ustadz Abu –lazim mereka memanggil, merupakan target dari program pemberantasan terorisme di Tanah Air. Pilihannya hanya dua. Dihukum mati atau terbunuh dalam operasi antiterorisme. Ini tak lepas dari posisi Ustadz Abu sebagai pimpinan kelompok mujahid yang ada, agar menjadi shock-teraphy bagi aktivis-aktivis jihad yang ada di Indonesia.

Tujuan tersebut tak akan berhasil, lantaran kelompok-kelompok mujahid dan aktivis-aktivis jihad menyadari benar ultimate-goal dari serangkaian proses terhadap Ustadz Abu selama ini. Justru mereka semakin terpacu untuk melakukan serangkain aksi jihad demi meraih mati syahid. Tanpa peduli apa kata orang. Mereka tetap memandang bahwa mereka “dijajah” oleh penguasa Indonesia yang telah menangkap dan membunuh tak kurang dari 700 orang pasca ledakan bom Bali sampai sekarang, tanpa mengindahkan HAM dan proses pengadilan yang fair dan adil.

Berbagai aksi terorisme ada yang benar skenario kelompok mereka, ada juga yang skenarion intelijen, dan ada pula yang skenario mereka dan intelijen sekaligus. Bom Bali misalnya, dalam penilaian mereka, merupakan “kerja bareng” antara kelompok jihad dan orang-orang intelijen. Hal ini bisa terjadi lantaran kelompok jihad tak ada yang steril dari pengaruh intelijen, awam dengan dunia intelijen, dan semangat jihad yang berlebihan. Mereka ini seringkali jadi korban atau dikorbankan dalam aksi terorisme di Tanah Air.


Bom buku, bom masjid dan lain sebagainya beberapa bulan terakhir tak bisa dibaca sebagai skenario kelompok jihad, boleh jadi juga skenario orang-orang intelijen. Peta terorisme di Tanah Air benar-benar kabur. Apalagi bila ditarik akar masalah dari aksi terorisme itu sendiri: ada yang berdimensi ideologis, politis dan ada pula yang berdimensi ekonomis. Semua kabur, sebab mereka mustahil mengemukakan secara terbuka di hadapan publik. Ini adalah rahasia dari sejuta rahasia yang dijaga demi kelanjutan dan kesinambungan mereka di jagad raya ini.

Saya sempat mengemukkan data intelijen yang ada dalam buku saya di atas, bahwa bertemunya beberapa skenario aksi terorisme di Tanah Air, atau bahkan di seluruh belahan dunia manapun, karena di level pengambil kebijakan dari aksi terorisme tersebut terjalin hubungan yang baik. Sehingga, dalam aksi tertentu, para pelaksana lapangan dari aksi terorisme tersebut bertemu. Disinilah, operasi intelijen dan operasi kontraintelijen beradu di lapangan. Mana yang lebih kuat, dialah yang menjadi pemenangnya.

Jadi, Osama atau Obama dalam konteks pemberantasan terorisme internasional, tak bisa dibaca sebagai “perang” akan tetapi berbagi “peran”. Kedua-duanya pemeran utama dari game terorisme internasional. Tujuannya satu: penguasaan minyak Timur Tengah oleh perusahaan minyak dunia. Minyak sumber energi dunia yang telah menggerakkan tenaga listrik AS untuk industri-industri mereka. Mereka menguasai lebih dari 75 persen sumber energi dunia.

Walaupun Osama dianggap sebagai pemimpin mujahidin di dunia, para aktivis jihad mengakui keintiman hubungan Osama dengan AS. Selama perang melawan Uni Soviet di Afghanistan, persenjataan para mujahid Afghanistan didroping penuh oleh AS. Namun karena, AS juga melakukan aksi invasi politik militer di Somalia dan Irak, maka, Osama berubah haluan, dari sekutu berubah seteru. Ini babak awal perang terorisme internasional sampai saat ini.

Saya berpandangan, masalah terorisme internasional masalah “abu-abu”. Saya tak dalam kapasitas bersekutu atau berseteru di antara keduanya. Tak ada gunanya, saya membela atau menentang di antara keduanya. Semuanya sama. Kental dengan kepentingan ekonomis yang dikemas dengan bahasa berbeda. Satu sisi berbahasa agama, dan di sisi lain berbahasa perdamaian dunia.

Yang pasti, korban dari aksi terorisme ini sudah banyak berjatuhan. Dari kalangan kelompok-kelompok mujahid maupun pasukan antiteror. Masyarakat yang tak tahu menahu soal terorisme ini pun juga tak sedikit jumlahnya yang menjadi korban. Korban-korban ini yang menyadarkan kita bahwa bagaimana pun mereka adalah manusia layaknya kita juga manusia. Agama apa pun di dunia ini, memerintahkan untuk menjaga nyawa, kehormatan, harta dan keluarga manusia dari berbagai marabahaya yang datang dari dalam diri sendiri maupun yang datang dari orang lain.

Nilai-nilai kemanusiaan ini yang bisa jadi “titik temu” untuk melakukan genjatan senjata, baik dalam waktu sementara maupun selama-lamanya, dalam perang terorisme internasional. Kedua belah pihak sama-sama menyadari. Bila perang ini diteruskan, maka berarti itu lonceng kematian bagi semua.

Para mujahid tua meminta untuk menarik dulu dari perang ini. Para mujahid tak mungkin kuat menghadapi pasukan antiteror yang yang masih dikemas dalam operasi sipil. Bagaimana kalau operasi militer, pasti mereka akan hancur lebur. Sedangkan, pasukan antiteror nyaris memenangkan perang ini. Banyak tokoh terorisme yang sudah mati dan/atau tertangkap. Kualitas dan kuantitas aksi mereka sudah jauh turun drastis bila dibanding dengan sebelumnya. Saatnya, seluruh anak manusia melakukan rekonsiliasi kemanusiaan mengakhiri perang terorisme internasional.

Alam dengan sendirinya, akan mempertemukan para mujahid dan pasukan antiteror kala mereka sama-sama sakit di rumah sakit atau di klinik pengobatan alternatif. Pertemuan saya dengan aktivis jihad memberi pelajaran berharga. Perbedaan pandangan, perbedaan pendapat, perbedaan sikap, dan perbedaan tindakan dalam memperjuangkan Islam menuju izzatul islam wal muslimin, bertemu dalam misi kemanusiaan untuk menjaga dan memelihara kesehatan demi peningkatan kualitas hidup, baik dalam berhubungan dengan Allah, dengan sesama manusia maupun dalam berhubungan dengan alam semesta.

Kemanusiaan adalah bahasa universal yang bisa diterima oleh semua orang dari berbagai lintas agama, suku, budaya dan bahasa. Dakwah kesehatan dan jihad pengobatan jauh lebih efektif dari dakwah dan jihad yang lain. Orang lebih mudah menerima ajakan baik dan cegah buruk kala sakit. Dan, yang bersangkutan kemudian lebih hati-hati dan wasdapa dalam menjalani pola hidup yang sehat. Sehingga dengan demikian, kualitas hidupnya akan lebih baik dari sebelumnya. Itulah titik temu kemanusiaan tersebut. Semoga!

*Moch Eksan, Pengasuh Pesantren Mahasiswa Nurul Islam 2 Mangli Jember, dan Pesantren Alam Padepokan Aziziyah Sadeng Lewissadeng Bogor.
Share this article :
 
 

Copyright © 2011. HMI STAIN JEMBER - All Rights Reserved